Rabu, 11 Mei 2011

Jumriani : Keliling Dunia Tidak Harus Kuliah Bahasa Inggeris

Laporan : Satriani Mahasiswa Prodi Jurnalistik UIN Alauddin Angkatan 2008

Salubarani adalah salah satu pedusunan yang terletak di perbatasan Tana Toraja dan Enrekang. Di daerah yang dingin dan sejuk inilah, Jumriani dilahirkan dari latar belakang keluarga sederhana. Masa-masa kecil yang indah dan penuh kenangan itu dilewati dan dihabiskan di daerah yang sejak dari dulu dikenal sebagai wilayah penghasil buah salak.

Anak pasangan suami isteri, Yuhana dan Suhaning ini, sejak kecil bercita-cita ingin keliling dunia. Saat masih jadi murid SD, dia ingin menjadi seorang guru Bahasa Inggris, karena dengan bahasa Inggris yang dikuasai dapat membantunya mencapai keinginannya mengunjungi kota dan tempat di pelosok bumi yang lain.

Setamat SD Salubarani, keinginan orang tua, dia masuk ke Pondok Pesantren Rahmatul Ashri Enrekang. Awalnya dia merasa tidak nyaman dengan suasana asrama, tapi lama kelamaan setelah mendapatkan kehangatan bersama dengan santri dan pengasuh, pada akhirnya merasa nyaman. Meskipun dia merasa sudah nyaman tinggal asrama. Namun sifat memberontaknya masih sering muncul, sehingga tak jarang mendapatkan teguran maupun hukuman dari pada guru pembinanya.

Besar harapan menggapai cita-cita untuk menjadi guru bahasa Inggris, dibuktikan dengan memilih jurusan bahasa saat sekolah di Madrasah Aliyah. Tak sedikit lomba diikuti, di antaranya pidato dalam bahasa Inggris maupun bahasa Arab. Wanita hobbi ngemil ini, sangat menyukai profesi guru terinspirasi dari Ibunda tersayangnya. Seorang guru di matanya merupakan pahlawan tanpa tanda jasa.
Dimana ada pertemuan, disitu ada perpisahan. Ungkapan ini rasanya cocok saat ia akan meninggalkan pesantren tercinta. Menurutnya, meninggalkan rumah saat ke asrama memang susah tapi lebih menyakitkan saat akan meninggalkan asrama dan kembali ke rumah.

Setelah lulus Madrasah Aliyah, gadis kelahiran 20 oktober 1989 ini, melanjutkan studi di UIN Alauddin Makassar jurusan jurnalistik. Meskipun awalnya dia memilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, namun karena ia diterima di jurusan jurnalistik maka dari itu dia tetap optimis.

Awal kuliah dia merasa tidak nyaman, karena tidak sesuai cita-cita masa kecil, ingin jadi guru, tetapi perjalanan waktu kemudian membuktikan, dia merasa tanpa di jurusan Bahasa Inggris, tetap terbuka peluang untuk dapat mengelilingi dunia.
Sosoknya sedikit pendek dari teman-teman yang lainnya.

Tetapi kekurangan itu, tidak menyurutkan semangatnya, untuk mengejar impiannya. “ Meskipun saya di jurusan jurnalistik, tapi jika suatu saat ada ajakan menjadi guru saya tidak akan menolak”, ucapnya dengan penuh semangat. (Satriani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar